Minggu, 13 Januari 2013

Rien n'est faux.


“Tidak ada yang salah. 
Hanya saja, aku atau kamu tidak ada yang mau mengalah.” 
(Sweet Nothings)

Cuma mau bales aja kok.

Raksasa Dari Jogja by @dwitasaridwita


Hhhmmm. Dwitasari. Gue tau namanya (dan karyanya) sejak dua milenium yang lalu udah lama, gara-gara nggak sengaja ngeliat link yang di-share temen sekolah. Gue baca post-post-nya, dan kata-katanya emang bikin gue naksir. Sejak itu, gue masukin blognya ke blog-list gue. Setiap kali dia update, gue baca postnya (kecuali yang panjang-panjang, males). 

Terus, belom lama ini dia ngeluarin novel pertama. Widih. Gue langsung bilang 'widih'. Iyalah gue bilang 'widih'. Gapapa kan, emangnya gak boleh?! Ngeliat covernya, gue naksir. Baca sinopsisnya juga, kayaknya keren. Jadi, gue beli dah bukunya. Ngeliat pembatas bukunya, naksirrr! :D 

Dengan gue yang udah sering baca post-nya yang selalu menuhin harapan gue (pilihan katanya cakep, rimanya ada, ceritanya bagus), ya jelaslah punya ekspektasi yang sama buat novelnya. Dan srek srek srek gue baca bukunya (<< ini baca buku apa ngerobek buku -___-). Begitu udah di tengah-tengah sampe ke belakang... Udah ga semangat bacanya. Ekspektasi gue hancuuurrrrr (۳ ˚Д˚)۳ isi bukunya tuh antiklimaks cover dan pembatas bukunya.

Yah, gimana yah. 
  1. Mulai dari putusnya persahabatan Bianca sama Letisha. Yang cuma (iya, cuma) gara-gara Letisha jadian sama cinta pertamanya Bianca, si Joshua. Gara-gara itu, dia gak pernah ngehubungin Letisha dan gak mau dihubungin Letisha lagi. Ngatain jalang, ngatain pengkhianat. Padahal Bianca nggak pernah ngasih tau Letisha kalo dia suka sama Joshua. Lah, terus Letisha salah apa? -________- dan sampe akhirnya nggak ada keterangan kalo Bianca ngasih tau Letisha bahwa ternyata Joshua itu cinta pertamanya. Terus si Bianca maunya apa sih. 

  2. Si Joshua bilang dia lanjutin kuliah ke Jogja, sama kayak Bianca (tapi beda kampus). Nah, di situ gue udah mikir. Widih, bakal ada ketemu-ketemuan kali yah? Mikirnya begitu. Tapi sampe akhir nggak ada cerita ketemu Joshua di Jogja. Sama sekali. Sama satu lagi. Pernah, si Letisha bilang kalo si Joshua itu "Manis. Romantis. Penuh magis!". Penuh magis? Apakah dia titisan Harry Potter!? #apaansih

  3. Bianca sama Kevin itu... Sepupu. Sepupu yang akrab bangetnya pas masih kecil, dan tau-tau begitu ketemu langsung pelukan kayak Teletubbies. Padahal, gue aja, kalaupun pas kecil deket, kalo nggak ketemu bertahun-tahun, atau cuma berbulan-bulan, atau hanya berminggu-minggu, gue gak berani peluk tuh. Canggung tauk. Tapi gue pikir, okelah. Terserah sampeyan. Cuma makin ke belakang... Makin ke belakang... Jadi kayak orang pacaran gitu sih? Berantemnya juga kayak orang pacaran begitu. Ini apa, ini apa (۳ ˚Д˚)۳

  4. Sepatunya Gabriel, "converse chuck taylor all star warna biru tua dengan tali putih" itu... Kenapa ditulis sampe sebegitunya yaaaah. Gue rasa kalo buat ngenalin Gabriel sebagai orang yang nubruk dia di shelter, tinggi badannya si Gabriel yang raksasa itu udah cukup. 

  5. Penjelasannya kurang. Gue nggak pernah ke Jogja. Yang gue tau tentang Jogja, ada tugunya, ada Malioboro, sama Jogja itu 'Daerah Istimewa', seperti yang udah dilebih-lebihkan dijelaskan di awal bab 2. Yah, itu aja. Makanya, begitu baca angkringan, Gudeg Wijilan... Apaan tuh? Jelasin kek... 

  6. Rada ngebut ceritanya. Si Bianca bisa tiba-tiba ada di sini, terus di halaman berikutnya udah ada di sono. Atau jangan-jangan Bianca punya tongkat sihir Harry Potter, terus pindah-pindah tempat dengan mudah!? Misterius... (?) #apaansih

  7. Typo-nya lumayan banyak. Padahal yang gue beli udah cetakan kedua. Meskipun sebagian cuma lupa ngasih titik, tetep aja gue ga suka. Jadi bikin... Gimana yaaaah. Bete aja. Pelit amat sih cuma ngasih titik doang brooo ._.  
 
  8. Sisanya... Anggap aja nggak ada yah (baca: males nulisnya). Tapi gue kasih tambahan deh, review buatan bakanekonomama yang nggak sengaja gue baca di goodreads:
Eh eh eh... sebelum ditutup saya mau kasih satu lagi deh yang mengganjal hati dan pikiran saya. Bagian ini nih:
Pintu masuk dijaga oleh seorang waiters dengan mata yang terantuk. Barangkali mengantuk. (Hal. 31)

[Menurut KBBI, arti "antuk" adalah:
an·tuk, ber·an·tuk v bersentuhan dng; berlanggaran dng; bertumbuk dng: kepalanya ~ dng tembok;
ber·an·tuk·an v saling berantuk;
meng·an·tuk v menyentuh; melanggar; membentur;
meng·an·tuk·kan v menyentuhkan; melanggarkan; membenturkan;
ter·an·tuk v tersentuh (pd); terlanggar (pd); tersandung (pd); terbentur (pd): kakinya ~ batu;
sudah ~ baru tengadah, pb sesudah merugi (menderita kecelakaan) baru sadar

sedangkan "kantuk" adalah:
kan·tuk n rasa hendak tidur: jika kami turuti -- ini, sudah dari tadi kami tertidur;
me·ngan·tuk v berasa hendak tidur: krn malamnya ronda, ia ~ di tempat kerjanya;
ter·kan·tuk v (tiba-tiba) mengantuk;
ter·kan·tuk-kan·tuk v merasa mengantuk (krn lama menunggu dsb)

Jadi, si waiters pasti punya kelainan yah, karena matanya saling terantuk.... Kasian...
LOL. Gue ketawa baca reviewnya bagian situ. Review buatan si bakanekonomama ini... Keren (haha). Pas bacanya, gue banyak ngomong sendiri: 'Iya juga yah', 'Iya ya...', 'Bener juga'... Yah, intinya, review buatan dia bikin gue kagum lah (hahahahaaa). 

Udahan yah negatifnya. Sekarang liat positifnya :3
Positifnya, yah seperti semua orang yang tau Dwitasari lah, diksinya itu loh. Kadang gue mikir, kok kepikiran aja sih!? Yah, standing applause lah buat diksi sama rimanya (´▽`ʃƪ)
Nih gue kasih bagian-bagian yang bikin gue kejomplang (bahasa apaan nih kejomplang) dari kursi saking terenyuh-unyuhnya (?) #apaansiihhhhh


*G: Gabriel, B: Bianca*
G: “Semua orang Jogja mencintai Merapi.”

B: “Tapi, dia menyakiti orang yang mencintainya dengan erupsi, letusan, dan dentuman. Itukah cara membalas cinta?”

G: “Bukankah mencintai selalu seperti itu?”

B: “Selalu seperti itu?”

G: “Mencintai selalu diiringi dengan rasa sakit. Siap mencintai siap disakiti.”

B: “Itu namanya pengkhianatan! Mencintai lalu disakiti, memberi sepenuh hati lalu disakiti. Terus begitu sampai mati?”

G: “Tidak semua rasa sakit berarti pengkhianatan.”

B: “Apa gunanya rasa sakit dalam mencintai?”

G: “Untuk tahu arti bahagia yang sebenarnya. Bahagia ada karena kita tahu rasa sakit.”
(Hal. 132) 

"Kesalahan terbesar manusia adalah ia tak bisa memilih hal-hal yang patut diperjuangkan dan juga pantas untuk ditinggalkan." (Hal. 237)

"Laki-laki yang menyakiti wanita sama saja menyakiti wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Tuhan menghitung setiap tetesan air mata kesedihan, dan akan menggantinya dengan jutaan kebahagiaan." (Hal. 237) 

"Jatuh cinta itu menyakitkan. Namanya saja jatuh, pasti sakit!" (Hal. 259)

"Dua manusia bersatu untuk menyimpan cinta. Seorang aku dan seorang kamu telah menjadi kita. Meredam egoisme, menyatukan idealisme. Melupakan perbedaan, mengakhiri beban." (Hal. 268)

"Jemari Gabriel mengisi celah-celah kecil di jemari Bianca. Itulah mengapa ada celah-celah kecil di jari manusia, karena akan ada saatnya celah-celah kecil tersebut diisi oleh seseorang yang tepat, yang akan setia menggenggam tanganmu dalam keadaan apapun." (Hal. 270)

Yang ini lucu:

*B: Bianca, K: Kevin*

B: "Nanti malam bulan purnama."
K: "Terus? Kamu mau berubah jadi serigala?"
B: "Bukan, Kevin!"
(Hal. 210)
Yah, dasar idiot si Kevin. Kalo pas malam bulan purnama si Bianca jadi serigala, mungkin judul novelnya udah ganti. Dari Raksasa dari Jogja jadi Manusia Serigala dari Jogja.



Cukup sekian okeeee ._. 
Udah kepanjangan postnya bro, jadi kita sudahi saja sampai di sini ;) dadaaahhh :*

w/ My Lovely Sir Ngadirun! ( ื▿ ื∫ƪ)

My hair is so shooooort. Why God why (۳ ˚Д˚)۳

Sabtu, 12 Januari 2013

How can?

Meskipun ada begitu banyak luka yang kautorehkan padaku, 
walau seringkali aku dibuat menangis olehmu,
kamu selalu menggantikan semuanya dengan kebahagiaan yang sama besarnya. 

 Jika begitu, bagaimana bisa aku meninggalkanmu?


Membuatku melupakan duka akan lukaku, 
seolah memaksaku menghapus tiap ingatan pahit bersamamu, 
kamu selalu menemukan cara untuk mengembalikan senyum dan tawaku. 

Jika begitu, bagaimana bisa aku meninggalkanmu?

Meskipun takkan ada lagi aku yang terluka dan aku yang menangis jika tanpamu di sisiku, 
maka takkan ada pula aku yang tersenyum dan tertawa tanpamu di sisiku. 

Jika begitu, bagaimana bisa aku meninggalkanmu?

While the time passing away.

  1. Where is your cell phone? On my desk.
  2. Your hair? Black and straight.
  3. Your mother? Superwoman. 
  4. Your father? If my mother is superwoman, so my father is a superman. As simple as that.
  5. Your favorite food? Um... Fried rice, maybe?
  6. Your dream last night? Nothing.
  7. Your favorite drink? Avocado juice of course! And mineral water.
  8. Your dream/goal? Haven't ever think about it.
  9. What room are you in? My bedroom. Yeah, mine and my sister's. 
  10. Your hobby? Eating, texting, sleeping... And now I'm sounds lazy (and that's right actually) ._.
  11. Your fear? Really want to know? ;)
  12. What do you want to be in 6 years? Independent and success lady.
  13. Where were you last night? Texting w/him before fell asleep.
  14. Something you aren't? Perfect.
  15. Muffins? Where?
  16. Wish list item? New camera (polaroid/DSLR, want both!), new clothes maybe?
  17. Where did you grow up? Below the sky.
  18. Last thing you did? Read people's blog. 
  19. What are you wearing? T-shirt and shortpants. 
  20. Your TV? Family room, my bedroom, and my parent's bedroom.
  21. Your pets? Nope.
  22. Your friends? Becoming far away (or it's just my bad feeling).
  23. Your life? Undesirable. 
  24. Your mood? Neutral... Not bad and not good.
  25. Missing someone? Maybe.
  26. Vehicle? A car and a motorcycle. Yes, it's too bad there's no bikes. 
  27. Something you're not wearing? Hats, dresses (?)
  28. Your favorite store? Bookstore. Gramedia! ;)
  29. Your favorite color? Dunno. Pastels maybe?
  30. When was the last time you laughed? Today, at home. 
  31. Last time you cried? Yesterday night. 
  32. One place where I go over and over again? Home, bedroom, school... And kitchen!
  33. One person who emails me regularly? Not checking my email :p
  34. Favorite place to eat? Mother's kitchen. The foods are yummy, and it's free ;)
Questions source is here

He's blue, he's cute!

Infinity hi.


Pagi ini,

kukira takkan kudapati dirimu di sisi ketika aku terbangun.



Pagi ini,

kukira takkan ada lagi senyummu yang diperuntukkan bagiku.



Karena hingga pagi ini,

ternyata hanya kamu yang setia ada di sisiku,

tersenyum lebar memamerkan gigi-gigimu,

seolah meyakinkanku bahwa segalanya baik-baik saja,

seakan mengingatkanku bahwa ada kamu di sampingku,

menjagaku.



Karena hingga pagi ini,

rupanya hanya kamu yang selalu saja ada untukku,

meski berkali-kali kulukai dan kucampakkan

semata-mata untuk pelampiasan,

kau tetap kembali padaku.

Aku yang tak berperasaan,

aku yang melukai dan mencampakkanmu malam itu!



Karena hingga pagi ini,

dan bahkan hingga hari-hari berikutnya,

aku tahu kamu akan selalu berada di sana,

menetap di sisiku,

dan menjadi yang pertama kulihat saat aku terbangun.



Dan...

Bagaimana dengan kamu?

Jikalau suatu hari nanti melukaimu hanyalah satu-satunya pilihan bagiku

dan mencampakkanmu merupakan keputusan terakhirku,

akankah kamu kembali?



Akankah kamu kembali,

sebagaimana dia kembali padaku?

Dia, si biru menggemaskan yang senantiasa menemani lelapku?



Dibuat sebelum hujan turun, 
amat deras dan sangat tiba-tiba.
Dibuat untuk kamu yang menghilang dari sisiku hari ini,
dan untuk si biru menggemaskan yang entah bagaimana caranya kembali ke sisiku setelah kusakiti berkali-kali.
Mungkin inilah alasan mengapa si biru menggemaskan ini kauberikan padaku ya? Menggantikanmu. 
Lho, memangnya kamu mau digantikan sebuah boneka?

Jumat, 11 Januari 2013

Didedikasikan untuk Fransisca Naomi!

Intermezzo
1. Siapakah Fransisca Naomi?
>> Fransisca Naomi itu nama panjangnya Fika. 
2. Siapa pula itu Fika?
>> Fika itu nama panggilannya Fransisca Naomi. 
3. Oke. 
>> Hm. 
4. Jadi, Fransisca Naomi itu siapa?
>> Nama panjangnya Fika! 
5. Are you fvcking kidding me -_____- seriusan, Fika itu siapa sihh?
>> LOL, oke. Di post gue kali ini, Fika itu author dari kisah yang mau ditampilkan berikut ini. Dia ini orang yang berjasa besar dalam membuat cerpen remaja yang nama tokohnya diambil dari nama temen-temennya, dan gue salah satu korbannya setelah Tata, Maria O, Maria C, dan lain-lain. Dan kali ini gue dengan berbaik hati, ngerepost cerpen dia di blog gue sebagai bentuk apresiasi terhadap cerita yang Fika bikin menggunakan nama gue!

Yap, seperti yang sudah di-bertele-tele-kan (?) di atas, post gue kali ini (sesuai judulnya) didedikasikan untuk Fransisca Naomi dari kelas 9A M1 yang pada 19 Agustus 2011 yang lalu udah bikinin cerita dengan melibatkan nama gue :* (NB: ada tanda baca yang gue benerin sedikit, gapapa yah Fikaaa)
Cekidot guys ;)
 ________________________________________________
 
     Anak itu terus menangis di tengah jalan. Christy kecil, yang saat itu baru berumur 7 tahun bingung sendiri melihatnya. Sebagian hatinya ingin menolong, tapi sebagian lagi nggak karena es krim cokelat hasil jerih payah membantu mamanya hampir cair. 
     "Kamu kenapa? Jangan di tengah jalan, ntar ketabrak loh." kata Christy berusaha membujuk anak itu. Di  tariknya lengan anak itu, tapi anak itu malah menangis lebih kencang.Dia meraung-raung. 
     "Pergi sana, jelek!!" katanya lalu mendorong Christy.
     Christy berdecak kesal, tapi decakannya itu langsung berubah jadi teriakan. 
     "Aaaa!!! Awas!!!"

***

     Christy terbangun sambil mengatur nafas. Bajunya basah, keringatnya mengalir deras dari pelipis. Hal itu membuatnya meringis sakit.
     "Aduuh.. Sumpah deh," gumamnya kesal. "Ni luka aib tau gak?!" lanjutnya sambil mengelap bekas luka di pelipisnya dengan tisu.
     Christy berjalan malas menuju kamar mandi. Hari ini tahun ajaran baru. Sebagai murid teladan (KATANYA), tentu dia harus bangun lebih awal untuk cuci mata.

BYUR .. BYUR .. PRAK .. TEK .. DUNG .. DUNG .. DUNG!!!!

     Begitulah kalo Christy mandi. Karena dia merupakan anak GABIEM (Gak Bisa Diem), acara mandinya sering di selingi dengan masak, bahkan kadang dia main drum band dengan bak cucian yang kadang di sumpel di kamar mandi.
     Christy keluar, segera berpakaian, lalu dia berjalan menuju sekolahnya. 
     "Masih jam segini. Gua ngapain dulu ya?" tanyanya pada diri sendiri. Tas ransel abu-abu-merahnya berguncang saat dia berlari.
     Gedung sekolah sudah terlihat. Christy segera berlari, melihat banyak sekali anak-anak wajah baru. Lalu di lihatnya beberapa teman sekelas yang melambai-lambai, terkadang terkikik, lalu ber-say-hi kecentilan terhadap anak baru.
     Christy mendekat, lalu belum sempat bertanya, semua temannya langsung nyerocos.
     "Chris! Ada yang cakep gak?"
     "Itu yang rambutnya cepak!"
     "Cakepan yang itu tuh!"
     Christy geleng-geleng. "Menurut gue.."

WUSSSHH!!

     Christy kaget, cepat-cepat merapikan rambutnya. Luka pelipis itu gak boleh ketauan, serem banget kalo sampe ada yang tau. 
     Tapi ternyata Christy lambat 1 detik. Seseorang telah melihat luka pelipisnya; seseorang yang bahkan belom pernah dilihatnya.

     "Lo!!!"

     Seseorang menubruk Christy hingga jatuh. Christy ngeri, langsung mendorong anak itu.
     "Apaan sih?! Main tubruk aja!!" pekik Christy langsung membersihkan baju dan rok nya yang kotor. Dia menatap anak itu. Hm, pasti anak baru nih. Muka asing sih soalnya.
     Orang itu nyengir kuda, lalu menjabat tangan Christy keras-keras.
     "Gak inget gue? Gue Angga!"
     Christy lagi-lagi memandang orang itu dengan tatapan sinting. "Angga? Kenal aja nggak. Apa lagi inget." kata Christy lalu pergi.
     Angga berjalan di sampingnya. "Jangan gitu dong.. Lo kan malaikat gue!" katanya dengan suara keras.
     Sontak semua anak langsung menoleh. Christy bergidik melihat orang-orang yang cekikikan itu. Orang gila, batin Christy mulai berlari.
     Angga bingung, lalu segera mengejarnya. "Malaikatkuuu!!! Bidadarikuu!!" kata Angga sambil terus mengejar Christy.
     Christy berlari hingga masuk kekelasnya. Segera saja dia ngumpet di balik meja lalu segera membekap mulut rapat-rapat. Dilihatnya Angga yang berlari sambil memegangi perut sebelah kirinya.

     “Anak kelas satu, berani banget ya main ke sini.” kata Adolfo, si ketua kelas yang sangarnya minta ampun. Beberapa anak sontak menoleh, bergumam, kalo anak kelas satu ke sini, ketauan banget udah bosen idup kan?
     Angga bergidik ngeri, berlari sekencang-kencangnya dan langsung berlari. Dia gak sadar, langsung saja masuk toilet lantai bawah sambil membekap mulutnya.

     “Hoeekk...”

     Darah memuncrat keluar dari mulut Angga. Seketika itu pula muka Angga pucat pasi. “Oh, jangan sekarang...” katanya kesal. Dia mengambil sapu tangan abu-abunya, segera mengelap mulut dan kembali memasukkan sapu tangannya itu. 
     Angga menggumam kesal. Waktu dia gak banyak. Setelah dia bisa balas budi sama cewek yang menyelamatkan nyawanya 10 tahun lalu, dia bakal bisa pergi dengan tenang, kan?

***

    Gosip 'Christy Di Taksir Brondong' langsung berkicau kemana-mana. Tatapan sinis mulai menggores-gores pertahanan emosi Christy, sampai pernah Christy menonjok pohon (hebat kan?), tapi akhirnya tangannya luka-luka.
     "Gosip itu sudah berlangsung 75 hari." kata temannya suatu hari. 
     Mendengar itu, Christy hanya tertawa kecil. "82 hari, sist." sahutnya membenarkan.
     Temannya itu berdecak kesal. "Yah, lo apa gak risih, di gosipin begitu?" tanya temannya itu. Dimakannya bakpao daging Christy sebagian.
     "Mau risih kek, apa kek, bisa apa gue?" tanyanya pelan. "Toh tu anak gak bakal berenti kan ngomong 'Malaikatku', 'Bidadariku', 'Cahayaku', dan sebangsanya?" tanya Christy lagi. Saat mau memakan bakpaonya, dia kaget karena sudah tinggal setengah.
     Temannya itu tertawa. "Yess.. gue gak pernah menang debat sama lo." katanya lalu mengajak Christy ke kantin.

     "Cahayaku!!!"

     Suara itu membuat seluruh badan Christy kaku. Tanpa sadar Christy menepuk keningnya, lalu berjalan cepat sambil menyeret tangan temannya  menjauh. Tapi kemudian Angga sudah berada di depannya.
     "Cici Christy malaikatku!!" katanya lalu mencubit pipi Christy. Christy kaget, malu, apa lah namanya karena, helooo, ini kantin gitu loh.
     Christy nyengir biasa, lalu menatap Angga galak. "Plis, gue lagi males main-main." katanya lalu pergi. 
     Angga seperti biasa, berjalan di samping Christy. Tingginya yang melebihi Christy membuatnya dapat mengganggu kakak kelasnya itu dengan asik.
     "Nanti pulang sama-sama ya?" tanya Angga sambil berjalan mundur di depan Christy. 
     Christy menggeleng. "Gak. Buat apa coba?" tanya Christy lalu mulai memilih-milih makanan yang akan di belinya.
     Angga tertawa, lalu memukul-mukul kepala Christy. "Kan gua harus kenalan sama bokap-nyokap lo.. calon menantu yang baik nih!!" kata Angga sambil membusungkan dada.

BUK!

     Christy menonjok punggung Angga. "Menantu palelu." katanya lalu berjalan menjauh.

     Angga tertawa kecil, lalu kembali menggeleng. Di bekapnya mulutnya, lalu di rasakannya darah mengalir lagi karena rasanya asam.
     "Plis, Chris.. waktu gue gak banyak lagi." gumamnya kecil.

***

     "Christy.. Christy!!!"
     Tante Diana berteriak panik melihat kondisi anaknya yang terluka. Darah mendominasi tubuh anak itu, terlihat luka dari pelipisnya mengeluarkan darah.
     Mereka berhenti di ruang isolasi. Di samping tante Diana, Oom Herry ikut-ikutan panik.

     "Oom, tante, Angga minta maaf..."

     Tante Diana dan Oom Herry tersentak. Dari tadi mereka tak sadar, ada anak kecil yang mengikuti mereka. Bajunya kotor karena berguling-guling.
     "Gak apa-apa sayang." kata Tante Diana lembut. "Christy pasti bisa bertahan kok. Dia kuat." kata Tante Diana lalu menangis lagi.

     Dua hari kemudian, Christy sudah boleh di tengok. Angga cepat-cepat datang dan mencari plang namanya.
     "Christy Monica." gumamnya pelan.Angga mendekat. Dia melihat anak yang 2 tahun lebih tua darinya itu sedang menatapnya kesal.
     Christy mendengus. "Kamu!" sentaknya. "Makanya, kalo bukan aku yang nyelamatin kamu, kamu udah jadi kayak aku sekarang." Kata  Christy lalu memakan es krim stroberinya.
     "Makasih kak," kata Angga pelan. "Kakak suka es krim stroberi ya?" tanya Angga.
     Christy menggeleng. "Lebih tepatnya es krim stroberi tapi ada cochochip nya. Enak deh." kata Christy lalu memberi Angga sendok.
     "Aku janji,"  kata Angga. "Bakal ngelindungi kakak. Hutang budi ini aku bawa seumur hidup." kata Angga sambil mengacungkan kelingkingnya.
     "Makasih. Kutunggu ya."

***

     "Hari ini Angga gak masuk ya?" tanya teman Christy saat istirahat. 
     Christy mengangkat bahu tak peduli. "So?" tanyanya pelan, kembali membaca novelnya. Di seruputnya es teh manisnya, lalu dia mendongak.
     Christy merapikan bajunya, lalu kembali ke kelas. Saat sebuah tangan menjegalnya, seorang anak asing, cewek, sedang terlihat panik.
     “Kakak Christy kan?” tanyanya panik. “Kak Angga nitip ini.. Tapi plis kakak ikut aku ke rumah sakit..”
     Christy merasa pikirannya aneh. Rumah sakit?

***
     Itu memang Angga. Tapi dia beda, selang-selang menembus kulitnya yang putih pucat. Di hidungnya di pasang alat bantu pernapasan.
     Baru saja Christy menguping, kalau ternyata Angga punya penyakit maag akut. Kok bisa? Kenapa gitu? Pertanyaan semacam itu berkunang-kunang di benak Christy.
     "Pasien sudah boleh di jenguk sekarang.."
     Suara itu membuat Christy sadar. Gak ada keluarga yang jenguk Angga--adiknya ikut orangtuanya ke Bandung untuk menjemput nenek Angga yang ingin melihatnya. 
     "Angga?" Christy duduk di sebuah kursi di sebelah ranjang.
     Angga mengedipkan mata. "Hah? Matahari.. aduuh.."
     Christy menggeplak kepala Angga. "Dasar bego, udah tau lagi sakit gini malah sempet-sempetin aja bercanda." kata Christy kesal.
     "Haha.. Gak papa lah. Kangen ya?" tanya Angga lagi.
     Christy mengeeleng. "Temen-temen gue. Oh iya, kok gue baru tau lo sakit maag akut?" tanya Christy penasaran. Dilihatnya Angga yang menunduk.
     "Iya. Emang kenapa?" tanya Angga berubah jadi dingin.
     Christy menatap orang itu kaget. "He? Yah, sebagai kakak kelas yang baik gue khawatir lah.." sahut Christy sok bijak. Dalam hati dia tersenyum, keren juga gue ini.
     Angga melirik Christy. "Jangan sok khawatir deh!"
     Kali ini Christy beneran kaget. Dilihatnya Angga baik-baik. "Ngomong apa lo?" tanya Christy lagi. "Lo lagi mimpi ya?" tanya Christy masih kaget.
     Angga menggeleng. "Mendingan lo keluar deh."
     Christy kali ini benar-benar kaget. Juga marah. Dia bangkit lalu melirik kesal ke arah Angga. "Jujur ya, gue kira lo itu baik. Ternyata, busuk!!"
     Pintu di banting. Di dalamnya Angga masih memegang perutnya, lalu menggeleng pelan.
"Sori.." gumamnya. "Gue gak tau apa besok gue masih bisa ngeliat lo." katanya lalu memejamkan mata.

***

     Mulai kemarin, Christy dongkol sama Angga. Di sekolah pun, Angga berubah. Jadi lebih dekat dengan cewek lain, dan gak pernah nyapa Christy lagi.
     Dia cemburu?
     "Gue cemburu?" tanya Christy mengibaskan rambutnya. "Helooo.. dia brondong. Cemburu brondong? Ke laut aja sana!" begitu jawab Christy setiap temannya bertanya.
     Christy sendiri gak tau dia cemburu atau nggak. Tapi malu, kan? Christy kali ini melihat Angga sama anak cewek, Irene kalo gak salah, lagi duduk di kantin berdua.

     Kepiting rebus, api merah membara, lipstik emak-emak...

     Christy berpaling dari kantin menuju kelasnya. Tetapi sesosok tubuh menghadangnya.
"Ikut gue!" kata Angga lalu menarik Christy.
     Angga menariknya sampai di gerbang belakang sekolah. 
     "Gue suka sama lo, kakak!"  kata Angga langsung. "Gue dari 10 tahun lalu udah suka sama lo!" kata Angga lagi.
     Christy mendongak heran, menepuk kepala Angga. "Sepuluh tahun yang lalu...?"
     "Gua hutang budi sama lu karena waktu itu lo udah nyelamatin gue. Saat gue nyari semua tentang lo, asal usul, nama, alamat, bahkan sekolah, gue pikir gue cukup dengan buat lo jadi benci sama gue." kata Angga pelan. "...tapi gue malah suka sama lo..."
     Christy menatap Angga heran. "Serius?" tanyanya.
     Angga mengangkat jari tengah dan telunjuknya. "Iya..."
     "Entahlah.. tapi gue belom pernah pacaran sama brondong." kata Christy sok ke ge-eran.
     Angga mendongak. "Gue yang pertama." kata Angga dengan muka melas.
     Christy tersenyum senang. "Traktir gue es krim stroberi..."
     "...yang ada chocochips-nya?"

***

     "Sayangkuuu!!!" Angga memekik girang.
     Christy mendelik. "Kalo gitu terus putus nih?!"
     Angga tersenyum lalu tertawa.
 ________________________________________________
Liat aslinya di sini ;)

Nah, sekian. Gimana ceritanya? 
Bagus? Menawan? Mempesona? Oh, pasti. Secaraaaaaaaaaaaa pake nama gue gitu lohhh ;;)
Dan sebagai pemilik nama, gue mau protes. Protes yang belum pernah tersampaikan sejak 19 Agustus 2011 yang lalu: 
  • Gue nggak suka stroberi, jadi gak mungkin gue suka es krim stroberi. Chocochips-nya okelah, tapi stroberiii... Tidak, terima kasih. 
  • Seumur hidup, gue gak pernah kenal sama yang namanya Angga. 
  • Gue gak pernah masuk rumah sakit gara-gara nolongin anak kecil yang ngatain gue jelek.
  • Nyokap gue namanya bukan Diana dan bokap gue namanya bukan Herry. 
  • Mandi gue bunyinya kecipak-kecipuk. Bukan 'BYUR .. BYUR .. PRAK .. TEK .. DUNG .. DUNG .. DUNG!!!!' :|
  • Akhir kata protes, cuma becanda lah yaawww, namanya juga cuma cerita, percuma juga gue protes -_______- tapi yang bagian 'gue suka es krim stroberi' itu nggak bisa diterimaaaaaa! :O 
Buat Fika, kalo lo baca post ini, mohon komentarnya yah bebebbb :*
Oke, cukup sekian yuaaahhhh, don't kangen-kangen lohh :*